Sabar dalam Belajar dan memilih Teman

Sebuah pohon yang berbuah membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bisa dipetik buahnya yang matang. Begitu pula dengan menuntut ilmu. Ilmu ibarat buah yang diharapkan matangnya. Adakah manusia yang langsung pintar ketika lahir? Adakah manusia yang langsung ahli tanpa butuh waktu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mempelajari dan mempraktikkannya? Tentu tidak, kita perlu bersabar dalam menjalani prosesnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan bahwa,

“Tidak ada keberhasilan di dunia dan kemenangan di akhirat kecuali dengan kesabaran. Kalaulah para petani tidak bersabar dalam menanam benih, niscaya dia tidak akan pernah memanen.

Kalaulah bukan karena kesabaran seorang pelajar terhadap pelajarannya, niscaya ia tidak akan pernah sukses dan bisa belajar. Maka untuk menggapai tujuan-tujuan yang tinggi tidak akan bisa dicapai kecuali dengan melalui penderitaan yang berat dan merasakan berbagai kepedihan yang menyakitka sehingga tercapailah sebuah angan-angan”.

Di dalam Al-Quran, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar pada dua hal,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Ali Imran : 200).

Perintah sabar yang pertama adalah sabar dalam mewujudkan iman yang pokok. Kemudian sabar yang kedua adalah untuk mewujudkan penyempurna iman. Hal ini menunjukkan pentingnya sabar dan kita diperintahkan bersabar sampai bertemu Allah. Karena memperjuangkan agar iman semakin sempurna, diantaranta adalah berjuang melalui ilmu merupakan perjuangan sampai akhir hayat. Hal ini juga membuktikkan bahwa sabar tidak ada batasnya, karena pahalanya pun juga tak terbatas.

 Selanjutnya pada ayat yang lain, Allah mengajak kita untuk bersabar dalam menyampaikan ilmu dan mengajar.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya” (Al-Kahfi : 28).

Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran ada dua fase yaitu sabar saat belajar dan sabar saat mengajar. Saat belajar perlu bersabar, karena menghafal ilmu harus sabar, memahami ilmu dan konsisten hadir di kajian juga butuh sabar. Begitu pula saat mengajar, karena untuk betah duduk menyampaikan ilmu kepada masyarakat perlu sabar, memahamkan mereka perlu sabar, saat menemui kekurangan murid juga harus sabar. Termasuk di dalam fase kedua ini adalah mengamalkan ilmu, karena diantara cara mengajar adalah memberi teladan yang baik.

Bukan hanya bersabar, kita juga dianjurkan untuk berdoa. Al-Quran mengajarkan doa ini untuk kita.

“dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Thaha : 114).

“Cukuplah ayat ini menggambarkan ketinggian dan kemuliaan ilmu, ketika Allah memerintahlan nabinya untuk berdoa agar meminta tambahan ilmu” (Miftah Dari Sa’adah, 1 : 223).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesabaran adalah sahabat terbaik bagi pentuntu ilmu. Sebab ilmu takkan didapatkan tanpa kesabaran melalui proses yang panjang dan ilmu tidak bisa diraih dengan bersantai-santai.

Pengaruh Teman Bagi Seseorang

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Manfaat Berteman dengan Orang yang Baik

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi).

Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut.

Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Dia juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap.

Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.

Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat.

Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar, 148)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *